Nama Proyek: Rumah Nusa Loka
Lokasi Proyek: Nusa Loka sektor XIV A BSD City, Tang-Sel
Nama Klien: Ny. Ellen
Tahun: 2007
Keinginan klien yang menghendaki sebuah rumah tinggal yang akan memaksimalkan potensi lahan yang ada untuk mengakomodasi kebutuhan akan ruang, rumah yang terlihat terlalu massif dan introvert ini disiasati dengan permainan bidang kanopi beton ,pemakaian texture andesit salur serta penonjolan warna sebagai aksen kuat penghuni.Tiadanya balkon dikarenakan memang klien masih mempunyai anak balita yang memang butuh pengawasan extra,optimalisasi cahaya agak direduksi karena orientasi bagunan menhghadap barat,penghawaan alami di sikapi dengan penggunaan dua daun jendela yang satu krapyak dan yang satu lagi full kaca:apabila dalam keadaan menggunakan AC krepyak dibuka dan jendela kaca tertutup begitu pula sebaliknya:jadi antara kebutuhan akan pengkondisian penghawaan alami dan buatan dapat sejalan dan penghematan akan energi listrik dapat diminimalisasikan.Elemen exterior lainya adalah pagar bagunan yang di buat seperti barcode baik pada railing holoow ataupun nat pada dinding pagar.
Nama Proyek: Rumah Villa Melati
Lokasi Proyek: Villa Melati D5/11
Nama Klien: Bpk. Yul K Dharmadji
Tahun : 2006 Tampilan fasad yang cukup berani memang sesuai dengan karakter pemilik yang ingin memiliki rumah yang berbeda dari rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Bagian depan fasad dibuat dengan balkon menggantung dengan satu kolom yang di cat dengan warna yang mempunyai karakter kuat yaitu merah; dengan aksen inilah yang kita ambil sebagai "eye catching" dari bagunan ini.Aksen gurat serta kaca panjang dari atas kebawah pun menunjang ekistensi bangunan tersebut. Bangunan ini pun hasil dari renovasi secara total dari keseluruhan bangunan yang pada awal hanya satu lantai,pada penataan ruang dalam pun dibuat dengan tiada pembatasan ruang antara ruang keluarga,ruang tamu,ruang makan dan dapur dibuat menjadi satu kesatuan utuh ruang,mengingat latar belakang klien yang berasal dari daerah Jawa Timur yang sangat kental dengan acara kumpul arisan,kumpul keluarga besar dan acara-acara yang memang membutuhkan ruang besar tanpa adanya sekatan pada ruang.
Data Project Lokasi Proyek: Permata Karawaci
Nama Klien: Bpk. Made Tahun: 2006
Bangunan ini adalah hasil dari renovasi terhadap bangunan lama ,dengan perubahan terhadap fasade bangunan serta sedikit perubahan pada ruang dalam dan tangga serta penambahan area dapur pada halaman belakang. Latar belakang klien yang adalah seorang profesional dalam bidang lingkungan hidup dan berasal dari Bali. Perubahan tampak depan memang mencoba beradaptasi terhadap lingkungan dan tren yang sedang minimalis; kombinasi keinginan klien terhadap asal beliau yang dari Bali diupayakan deselaraskan dengan lingkungan dan trend. penggunaan camprot halus serta cat abu-abu dan bata expos yang selalu ada pada bangunan tradisional Bali diupayakan ada walaupun tidak secara keseluruhan hanya berupa aksen pada side enterance serta samping kiri bangunan,penggunaan panel pintu dengan motif anyaman pun diupayakan dapat mix and match pada tampilan fasade keseluruhan;area carport pun dibuat dengan beton dan balok expose ubtu tanaman rambat.Pada penataan ruang pun area dapur berada di luar bangunan yang merupakan kaidah tata ruang di Bali.
Definisi: Denah adalah tampak atas bangunan yang terpotong secara horizontal setinggi 1m dari ketinggian 0.00 sebuah bangunan dengan bagian atas bangunan dibuang/dihilangkan.
Masalah konsultasi yang menjadi hot topic antara arsitek dan klien adalah masalah Denah,masalah ini memakan hampir sekitar 60% dari proses design development. Denah merupakan inti dari keseluruhan permasalahan desain,dalam denah memang terdapat masing-masing fungsi yaitu: fungsi ruang,sirkulasi,dimensi,bukaan pintu dan jendela,furniture hingga masuk ke dalam perhitungan struktur dan MEP (mekanikal Elektrikal dan Plumbing). Sebegitu kompleksnya permasalahan denah tersebut kadang-kadang memang kita juga harus mencermati masalah di luar arsitektural, masalah yang kita hadapi malah mencakup psikologi , latar belakang budaya dan kebiasaan klien yang tidak mudah terukur selain masalah makro (site,orientasi dll).
Saya teringat jaman kuliah dahulu,kalau boleh dibilang kuliah arsitektur itu dari semester awal sampai akhir adalah membuat Denah.mata kuliah perancangan Arsitektur 1 hingga 6,bahkan sampai tugas akhir pun kami berkutat dengan denah,sampai sampai kami tidak bisa tidur atau bahkan terbawa sampai kami tidur kalau belum menemukan sebuah denah yang sesuai dan mengakomodir semua permasalahan dalam proses perancangan,alangkah senangnya kami apabila berhasil menemukan denah yang kami pikir terbaik. Denah memang merupakan Core atau inti dari perancangan desain,denah merupakan ekspresi dari tampak bangunan. Setelah denah itu selesai barulah faktor penunjang itu dapat masuk seperti perhitungan struktur dan MEP. Saya teringat dosen perancangan yang berkata :’” apabila seseorang itu ahli maka dia akan lama sekali untuk memikirkan banyak faktor dan sudut pandang yang dilihat, seperti seorang yang ahli dalam membuat kursi berbeda sekali dengan orang yang hanya bisa membuat sebuah kursi”.
Uraian diatas tadi mendeskripsikan bahwa denah memang merupakan kunci sukses dari keberhasilan sebuah desain arsitektur. Saya sempat mengamati berbagai iklan yang ada tentang pembuatan denah yang hanya instant; sekali jadi dan universal dan bisa dipakai siapa saja kliennya.bukankah bangunan itu identitas bahkan juga status sosial pemilik??,tapi masih saja ada banyak orang yang menggampangkan sebuah Denah.Ada seorang kawan arsitek yang sampai tinggal dirumah klien itu satu minggu untuk mengamati semua kebiasaan dan kegiatan klien tersebut sebagai bahan referensi untuk membuat denah;semata-mata hanya untuk mengejar kesempurnaan,tapi kadang-kadang juga masih kurang; minimal mendekati keinginan klien. Apa mungkin karena tuntutan zaman yang serba cepat mendorong kita untuk juga berfikir cepat untuk tanggap terhadap keinginan klien???:atau klien itu sendiri yang menginginkan instant??; apa semua memang hanya berbasis pada suplai dan demand (proses jual beli).Mudah-mudahan masih ada harapan untuk memperbaiki segala sesuatu yang masih kurang terjalin erat antara arsitek dan pemberi tugas.
Di tengah persaingan ketat dalam dunia arsitektur banyak para arsitek memasarkan berbagai cara untuk menjual berbagai jasa konsultasi perencanaan dan perancangan arsitektur serta proses pembangunan atau konstruksi.
Tumbuhnya apresiasi serta keinginan masyarakat akan jasa arsitek mendorong mereka untuk lebih mencermati lagi berbagai macam pilihan dan penawaran jasa yang tersedia.
Di Indonesia (khususnya Jakarta) ini ada banyak arsitek yang membuka praktik konsultan baik yang bersertifikat ataupun tidak,ada yang tergabung dalam asosiasi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ataupun tidak; ada berbagai macam pilihan memang yang kadang membuat klien atau pengguna jasa menjadi bingung.
Adapun bagi anda yang ingin memakai jasa arsitek,saya mencoba memberi tips bagaimana cara memilih jasa konsultan mana yang akan kita pilih,adapun tips ini agar mudah diingat adalah dengan memakai 3R :
Ada yang aneh atau janggal kalo kita sering mendengar kata idealis: Idealisme kadang sering dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat normatif , keras serta sesuai dengan aturan:padahal hal tersebut lumrah dan lurus-lurus saja atau mungkin orang tersebut seringkali bertentangan dengan cara bertindak,berlaku serta berfikir orang kebanyakan??atau mungkin orang yang selalu mengesampingkan nilai materi??...
Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa (Plato), jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik.[1] Realitas sendiri dijelaskan dengan gejala-gejala psikis, roh, pikiran, diri, pikiran mutlak, bukan berkenaan dengan materi.[1]
Ada banyak bidang jasa di Indonesia,seperti : pengacara,accounting,pajak,advertising,desain graphis dll.Tapi yang ingin saya bahas disini adalah bidang yang saya tekuni yaitu konsultan arsitek. Masalah yang seringkali terjadi adalah apresiasi klien terhadap proses ide atau gagasan yang dianggap tidak mempunyai nilai apapun,semua hanya melihat produk saja.Kalau kita lihat latar belakang klien yang ada rata-rata mereka mempunyai latar pendidikan yang memadai untuk meng”apresiasikan” sebuah karya;mungkin pula mereka menganggap gagasan atau ide merupakan hal yang abstrak yang masih belum bisa dibayangkan secara kongkrit kedalam sebuah desain atau mungkin karena nilai fee tersebut yang dianggap terlalu besar atau mahal??.
Kadang timbul pertanyaan di benak saya,bukankah semua para pekerja kantoran atau profesi lain itu juga dihargai karena jasa mereka ??dokter apakah dihargai karena obatnya?,accounting / finance atau pajak ,apakah dihargai karena bisa membuat uang?polisi apakah membuat pistol?pilot apakah karena membuat pesawat?dll, kesemuanya di hargai karena peranan mereka serta keahlian yang mereka miliki bukan produk.Pernah seorang teman bercerita tentang hal yang sama dialaminya dalam dunia advertising yang kesemuanya project di dapat dari proses pitching ( tender ),proses desain yang telah dilakukan dengan sangat cermat dan kreatif melalui ide dan gagasan-gagasan pun dirangkum menjadi sebuah konsep,lalu diajukan dalam proses pitching tersebut;apabila berhasil menang maka kontrak kerja pun didapat dan apabila gagal maka gagal pulalah semua yang telah dilakukan dengan proses yang panjang tanpa ada pergantian biaya apapun .Pertanyaannya apakah semua industri yang bergerak dalam kreatifitas ini juga mengalami hal yang sama?yang ujungnya tidak adanya apresiasi terhadap proses kreatif yang dilakukan?.
Regulasi dari Asosiasi ( IAI) pun telah dibuat sebagai kode etik dari arsitek yang mengatur mengenai besaran fee desain yang diterima si arsitek yaitu presentase ( % )terhadap nilai dari estimasi pembangunan yang besarnya antara 5-7%.tapi ini juga belum bisa membuka pemikiran dari klien terhadap arsitek,kebanyakan dari mereka berfikir bangunan belum berdiri saja sudah harus mengeluarkan anggaran ? Atau kadang klien yang malah memberi opsi kalau desain dan bangunya disatukan dalam anggaran bangunan berapa??(kasus design and build) yang kadang malah menjebak arsitek untuk tidak lagi berfikir terhadap proses kelaikan tapi berfikir bagaimana proses itu dihilangkan untuk dapat segera pada proses pelaksanaan saja, kadang dalam berbagai kasus juga ditemui anggaran biaya bangunan pun menjadi tinggi karena memasukan fee tersebut ke dalam anggaran.Apakah klien selesai sampai disini?? Tidak masih ada lagi proses bargain atau penawaran kembali terhadap angka di anggaran tersebut.inipun juga bisa saja klien memutuskan tidak jadi dan gagal memakai jasa arsitek tersebut, tanpa ada pergantian biaya kegagalan (cancelation fee ) pula.menyedihkan bukan??...
Setahu saya belum ada regulasi terhadap Design and build tersebut bagaimana aturan main yang jelas,semua bermain dalam ranah abu-abu .Apakah mungkin dengan adanya aturan main rancang dan bangun tersebut polemik dalam dunia arsitektural ini selesai?? Belum tahu dan perlu waktu untuk menjawabnya.Sampai kapan orang dapat menghargai sebuah ide gagasan yang didasari melalui pemikiran ,waktu dan tenaga?Bukankah produk apapun yang kita nikmati hari ini adalah merupakan buah hasil sebuah gagasan dan ide?........So Pathetic